Cerita Ibunda Penganiaya Pembantu "MASALAH DIPENDAM, LALU MELEDAK!"
Betapa terkejutnya Yuli (46) ketika mendengar berita anak sulungnya, Dewi (28), diberitakan menganiaya pembantunya. (NOVA edisi 924). Ia pun merasa perlu menjelaskan semua latar belakang masalah itu.
Jangankan bermimpi, membayangkan pun tidak pernah, Dewi Sri (28), anak sulungku dari empat bersaudara, bakal mendekam di tahanan polisi. Kenyataannya itulah yang harus kuterima. Dewi Sri kini menjadi tahanan di Polsek Metro Pulo Gadung, Jakarta Timur terhitung sejak Sabtu (5/11). Dia memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, yang tega menganiaya pembantu di rumahnya, bernama Sarinah yang baru dua minggu bekerja di rumah Dewi di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. (NOVA edisi 924).
Aku sendiri tidak melihat kejadian tersebut, karena sejak menikah dengan Budi Rahmanto, Dewi tinggal di Rawamangun, sedangkan aku tinggal di Pulomas. Seorang tetangga Dewi meneleponku sehari setelah kejadian. Ketika itu aku sedang makan siang di sebuah restoran. "Bu, anak Ibu ditangkap polisi. Ada di tayangan televisi."
Bagai mendengar petir di siang bolong, selera makanku segera hilang. Segera saja aku memacu mobil menuju rumah Dewi di Jalan Balai Pustaka. Betapa kagetnya, rumah yang baru sebulan dihuni Dewi sudah dipenuhi warga dan wartawan. Aku hanya melihat rumah itu dari kejauhan, tidak berani memasukinya. Saat itu, aku juga tidak menemukan suaminya di sana.
ENGGAN BERTEMU Perasaanku begitu kalut ketika ada warga yang berteriak dan mengancam akan membakar rumah Dewi. Ada juga yang mengatakan, mereka tidak menerima Dewi sebagai warga di Jalan Balai Pustaka 1. Aku terkesiap mendengar suara mereka. "Kalau tidak boleh tinggal di sini, ke mana mereka bakal pindah? Separah apa gerangan Dewi memperlakukan pembantunya, sehingga warga sampai marah begitu?"
Pikiranku langsung membayangkan Dewi yang tengah ketakutan. Di mana dia ditahan? Karena tidak tahu, aku sempat mendatangi Mapolres Jakarta Timur sebelum akhinya mendatangi Mapolsek Pulo Gadung. Selama dalam perjalanan, aku menangis dan sesekali membayangkan Sarinah, yang baru dua minggu bekerja di rumah Dewi.
Sampai di Mapolsek Pulo Gadung, aku berharap sekali dapat bertemu Dewi dan ingin berbagi dengannya. Namun, aku tidak diizinkan bertemu. Menurut petugas, Dewi menolak bertemu denganku. Yang mengagetkanku, masih kata petugas, Dewi mengancam bunuh diri kalau aku nekat ingin bertemu.
Seminggu kemudian, barulah aku bertemu dengan Dewi. Itu pun berkat rayuan Ida, kerabatku yang sengaja kuajak untuk menjenguk Dewi. "Lihat Mamamu. Dia ingin sekali bertemu denganmu, tapi kamu tidak mau. Kasihan dia." Betapa senang aku bisa melihat dia yang saat itu sudah dipindahkan ke rumah tahanan Pondok Bambu.
Kalau Dewi enggan bertemu denganku, itu bukan karena kami sedang diam-diaman. Kami selalu akrab. Sebagai anak pertama, dia anak kesayanganku. Aku selalu curhat kepadanya bila ada masalah. Dewi juga dekat dengan ayahnya, Abdul Manaf. Belakangan kuketahui, dia tidak mau bertemu karena tak mau menambah beban pikiranku.
Dalam pertemuan di rutan, kami berdua saling menangis. Secara perlahan dia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. "Sudahlah, saya yang salah. Saya akan tempuh hukuman ini. Ibu jangan terlalu memikirkan saya," katanya. Dia juga menginginkan saya mendatangi Sarinah untuk meminta maaf.
BERNIAT BUNUH DIRI Ya, Dewi memang mengakui perbuatannya. Semua itu dipicu karena jengkel dengan ulah Sarinah. Menurut Dewi, Sarinah sudah sering diingatkan, agar hati-hati dengan seterika. Yaitu tidak membiarkan colokan seterika menancap karena bisa menyebabkan kebakaran. Menurut Dewi, dirinya sudah berulang kali menegur Sarinah. Entah kenapa, Sarinah sering kelupaan untuk mencabut saklar.
Sabtu (5/11) Dewi kembali menemukan Sarinah ketiduran, sementara seterika masih terpasang di atas meja seterika dan membakar hangus dua kain milik Dewi. Melihat kejadian tersebut, Dewi langsung naik pitam. Ia menaruh seterika panas ke paha Sarinah. Selanjutnya mengusir Sarinah. Sebetulnya, suaminya menegur Dewi agar tidak mengusir Sarinah karena takut kepada warga. Namun, Dewi yang sudah naik pitam sudah tidak perduli.
Akhirnya Sarinah keluar dari rumah, lalu menuju rumah tetangga. Warga pun berdatangan untuk mengetahui keadaan Sarinah. Mereka berteriak-teriak mau membakar rumah dan mengusir Dewi. Dewi dan suaminya tentu ketakutan. Dewi memilih bersembunyi di kamarnya dalam keadan ketakutan hebat. Untunglah petugas segera datang sehingga Dewi terhindar dari ancaman amukan massa.
Bayangkan, Dewi yang sejak kecil tidak pernah berurusan dengan polisi, tiba-tiba rumahnya didatangi pihak berwajib. Dewi pun ketakutan. Saking stresnya, dia sampai berniat untuk bunuh diri. Setelah dua hari menginap do Polsek Pulo Gadung, ia dipindahkan ke Rutan Pondok Bambu. Di sini Dewi sempat ditempatkan bersama tahanan kasus narkoba. Akhirnya, ia dipindahkan bersama tahanan kriminal.
Dalam kesempatan bertemu aku bertanya, kenapa dia begitu tega kepada Sarinah. "Saya tidak tahu kenapa saya lakukan itu." Dia mengatakan pikirannya sedang kalut.Sepertinya bukan dirinya yang melakukan itu. |